Rabu, 29 Mei 2013

Proyeksi Diri

Hana is my Name, lahir dan dibesarkan oleh orang tua terbaik di dunia. Memiliki dua kakak laki-laki terhebat dan seorang kakak perempuan dengan hati selembut sutra yang terlebih dahulu telah dipanggil Sang Maha Pencipta.
Ketika kecil karena terbiasa mendapatkan apa yang saya inginkan dan semua fasilitas serba ada membuat saya menjadi anak yang malas dan manja. Saking malasnya sampai membuat saya malas untuk pergi ke sekolah dan sering membolos di sekolah dasar, saya lebih merasa nyaman dan enjoy berada di rumah. Tapi walaupun jarang masuk sekolah, nilai pelajaran saya tidak buruk dan beberapa nilaipun memuaskan.
Sampai suatu ketika di kelas 4SD saya dipercaya untuk mewakili sekolah dalam sebuah lomba. Namun sebelum terpilihn sebagai perwakilan dari sekolah ada sedikit perdebatan karena beberapa dari guru menganggap bahwa saya tidak akan mampu melakukannya, tapi Alhamdulillah dengan seizing Allah lomba tersebut bisa saya menangkan.
Mungkin secara tidak langsung itu menyadarkan saya, saya mulai merasa asiknya bersekolah karena sebelum lomba ada latihan yang harus saya jalani jadi saya dituntut untuk belajar dan brangkat sekolah lebih rajin (padahal itu adalah kewajiban seorang pelajar), serunya bermain saat istirahat, makan dan jajan bersama teman-teman dan tidak  dipungkiri proyeksi teman-teman, saudara, keluarga juga guruku tentang kebiasaan buruk saya yang harus diubah.!!!
Sebenarnya sudah banyak yang menasehatiku tentang kebiasaan buruk saya tersebut namun karena saya masih kecil jadi saya belum begitu menganggap itu adalah hal yang penting. Mungkin ini jalan yang sudah Allah SWT atur untuk menyadarkan saya tentang proyeksi saya terhadap diri saya sendiri yang salah.
Usai sekolah dasar, saya menjalani masa SMP yang menyenangkan. Mulai mencari banyak teman, ikut beberapa ekskul di sekolah, mulai suka pada seseorang dll. Tapi saat kelas 3 smp Allah memberi cobaan kepada keluarga saya, yaitu mama saya yang mendadak sakit. Cukup lama mama sakit dan setiap hari selalu meminum banyak obat-obatan berjuang untuk sembuh. Saya tidak bisa membayangkan bila hal buruk terjadi padanya. Alhamdulillah setelah beberapa lama Allah memberikan kesembuhan pada mama. Beliau adalah mama terhebat dan terbaik bagi saya dan keluarga. Setelah kejadiaan itu sebisa mungkin saya melakukan yang terbaik untuknya. Dan saya ingin lebih bisa membuatnya bangga, berbakti  padanya dan juga papa tentunya. Saya ingin bisa membahagiakan kedua orangtua saya dengan melakukan hal-hal yang sekarang bisa saya lakukan. Saya sangat bersyukur, itu mengubah proyeksi saya terhadap diri saya sendiri agar bisa lebih menghargai dan menyayangi keluarga.
Berlanjut SMA saya mulai mengikuti kegiatan OSIS dan mulai ikut beberapa lomba, saya pernah memenangkan lomba siswi berprestasi, lomba olahraga dan ada lomba lain tapi itu dak saya menangkan. Mulai mempunyai pacar seperti remaja -remaja pada usia saya. SMA merupakan masa terindah sekolah yang tidak bisa terlupakan oleh semua orang termasuk juga saya. Tapi ada kejadian di mana pada masa itu banyak sekali anak-anak yang membuat geng di sekolah, hanya bermain dengan anggota gengnya saja dan memproyeksikan orang yang bukan geng mereka sebagai orang tidak penting. Saya adalah salah satu dari orang netral di SMA saya bisa berteman dengan siapa saja dan geng mana saja di sekolah. Mungkin itu yang membuat ada proyeksi buruk teman-teman terhadap saya. Menurutnya saya itu tidak konsisten, jangan-jangan saya bermuka dua karena geng A dan geng B saling bermusuhan dan saya berteman dengan semuanya. Tapi saya tidak ambil pusing tentang masalah itu toh saya bukan orang yang seperti diproyeksikan teman-teman yang kurang suka terhadap saya. Saya menganggap berteman dengan siapa saja itu bukan suatu kesalahan asal kita juga bisa menjaga diri dari teman yang mempunyai sikap negatif. Sebenarnya banyak cerita dimasa itu yang mungkin bila aku tulis tidak akan selesai selama tujuh hari tujuh malam. hahaha...
Lulus SMA saya mencoba mendaftar perguruan tinggi negeri dan saya di terima di UNDIP dengan jalur UM, namun karena jurusannya yang tidak saya sukai akhirnya saya memilih kuliah diuniveristas swasta yang jurusannya saya mianti. Saya kuliah di jurusan Teknik Informatika di Universitas Sains Al-Qur'an di Wonosobo dan saya juga mendapat beasiswa selama tiga semester di sana. Saya kuliah Teknik Informatika hanya sampai awal semeter 3 karena tiba-tiba saya mendapat kabar bahwa Mama saya jatuh sakit dengan penyakit yang pernah dialami mama saat saya kelas 3 SMP. Akhirna saya memutuskan untuk berhenti kuliah dan mengurus mama di rumah. Cukup lama mama sembuh dari penyakitnya, tapi Alhamdulillah Allah memberikan kesembuhan pada mama. 
Hampir setahun berlalu membuat saya ingin melanjutkan kuliah lagi namun tidak berada jauh dari keluarga. Akhirnya saya melanjutkan kuliah lagi di jurusan Farmasi UNIKAL. Setahun mengurus mama dan tidak belajar sama sekali tentang pelajaran apapun sempat membuat saya ragu apakah saya bisa menjalai kuliah ini, tapi Alhamdulillah saya bisa beradaptasi di jurusan farmasi ini.
Kedepannya saya berharap dengan mengambil jurusan farmasi ini saya bisa bermanfaat dan berguna bagi keluarga saya, saudara, teman-teman dan orang banyak. Bisa menjadi ahli obat yang bukan sekedar sukses dunia tapi juga akhirat. Bisa mendapatkan penghasilan yang halal dan banyak untuk membahagiakan kedua orangtua saya dan orang-orang yang saya sayangi, juga ingin lebih bisa membantu anak yatim dan anak kurang mampu. Saya juga berharap bisa menjadi istri yang solehah bagi suami saya kelak, menjadi ibu yang baik bagi anak - anak saya nanti. Memproyeksikan diri sendiri agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Amin. . .
 So, tidak semua proyeksi seseorang terhadap kita itu adalah untuk mengejek atau menjatuhkan kita. Namun bila dilihat dari sisi lain proyeksi orang lain tersebut mungkin sebagian mencerminan yang terlihat dari perilaku dan sikap diri kita (walaupun tidak semuanya seperti itu) dan itu bisa menjadi dorongan juga motivasi kita berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Kita juga harus menintrospeksi proyeksi diri kita sendiri agar tidak serta merta menganggap diri kita selalu benar dan orang lain itu selalu salah. Dan yang perlu diingat adalah ‘Don’t judge someone by the cover’ karena kadang kita tidak tahu pribadi dan peristiwa apa yang telah dialami seseorang. Seperti istilah ‘Kamu tahu namaku tapi tidak dengan ceritaku’.!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar